Ulama adalah Penebar Kedamaian

0
0
WhatsApp
Twitter
Ulama adalah Penebar Kedamaian
Ulama adalah Penebar Kedamaian

Ulama adalah waratsatul anbiya, pewarisi ilmu para nabi, penyebar kedamaian dan rahmat bagi umat manusia. Ulama juga menjadi panutan di masyarakat. Tidak semua orang pantas disebut sebagai ulama, karena predikat ulama ini layak disematkan kepada orang yang menguasai ilmu agama, santun, kredibel, dan ‘Alim. Inilah kata kunci utamanya. Bahkan predikat ulama layak disematkan kepada orang-orang yang berdakwah dengan kedamaian, merangkul, mengajak kepada kebaikan, tidak dengan mencaci, dan menghina. Bahkan cenderung memprovokasi hingga terjadilah perselisihan antar umat. Ulama itu misalnya KH. Musthofa Bisri atau Gus Mus, Habib Luthi Bin Yahya, dan Habib Quraish Shihab.

Belum lama ini, terjadi penghinaan yang dilakukan oleh Sugi Nur Raharja alias Gus Nur. Video Gus Nur yang diunggah di akun Youtube Munjiyat Channel, dinilai telah melakukan ujaran kebencian terhadap NU. Gus Nur dinilai menghina NU karena dalam video yang dilayangkan atas vlog Gus Nur yang berjudul Generasi Muda NU Penjilat. Vlog yang berdurasi 28 menit 25 detik itu pun dinilai telah menghina NU. Dari kasus ini kita sadar, bahwa seorang pendakwah itu sangat tidak layak menebarkan kebencian dan cacian kepada siapa pun. Seyogianya, para ulama atau pendakwah memberi pesan damai dan sejuk kepada umat.

Menurut hasil survei Pengawas Perhimpunan Perkembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), tentang masjid yang terindikasi radikalisme pada akhir Oktober 2018. Survei yang menyasar 100 mesjid di lingkungan pemerintah dan Lembaga, menghasilkan kesimpulan sebanyak 41 masjid terpapar radikalisme. Dan masih banyak lagi tempat-tempat yang digunakan untuk berdakwah berisi hoaks, ujaran kebencian, dan radikalisme.

Menurut Gus Mus, dakwah itu mengajak, bukan memerintah, menakut-nakuti, apalagi marah-marah. Berdakwah dulu baru amar makruf nahi mungkar. Amar makruf nahi mungkar pun ada tingkatannya. Yang pertama dengan perbuatan. Kedua, dengan lisandan terakhir dengan hati.

Dalam berdakwah seorang ulama hendaknya meniru akhlak Nabi Muhammad SAW, yang lemah lembut. Karena Nabi berdakwah dengan memanusiakan manusia. Dalam sejarah pun Nabi SAW berdakwah dengan cara menyejukan dan menyenangkan. Seperti peristiwa saat Nabi Muhammad yang setiap harinya selalu diludahi oleh seorang Yahudi, hingga pada suatu hari orang Yahudi tersebut menderita sakit. Ketika nabi mendengar kabar tersebut, Nabi pun menjenguk orang Yahudi tersebut. Betapa terkejutnya ia, ketika Rasulullah SAW menjenguknya, orang Yahudi tersebut pun tertegun dan terharu dengan akhlak dan kebaikan Nabi SAW. Akhirnya, di kemudian hari orang Yahudi tersebut menyatakan masuk Islam.

Sejatinya,seorang ulama ketika berdakwah mengajak dalam kebaikan. Ulama harus menebar pesan kedamaian, persaudaraan, dan solidaritas kepada umat. Tidak dengan pesan yang penuh fitnah, kedengkian, dan kebencian. Karena Islam adalah agama yang ramah, bukan yang marah. Sementara apabila ada pendakwah yang menebar kebencian dan marah-marah, maka hal tersebut sangat jauh dari ajaran Rasulullah SAW.

Selayaknya, seorang pendakwah mencontoh budi pekerti Nabi Muhammad SAW yang selalu mengedepankan kasih sayang kepada setiap umat manusia. Inilah bentuk kesuksesan Nabi SAW dalam berdakwah, dengan mengedepankan kebaikan, perdamaian dan penuh kasih sayang. Dengan dakwah itulah menjadikan beliau sebagai suri tauladan utama bagi umat manusia. Cara dakwah yang damai inilah yang ditiru oleh para wali songo ketika mendakwahkan Islam di bumi nusantara.