Kolom

Goyang Dombret Hizbut Tahrir

2 Mins read
Hizbut Tahrir Libya

Kang Dadang paling kasep
Saya suka akang, suka sekali
Bang Mandor paling ganteng
Saya demen akang, demen sekali

Ayo dong bang bergoyang
Biar saya temenin
Jangan lupa sawernya
Buat tambahan saya
Makin banyak sawerannya
Makin asik goyangannya

Promosi gerakan paham Islam transnasional Hizbut Tahrir melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru dunia, seperti lirik lagu ‘goyang dombret’ pencipta Ukat S diatas. Dengan balutan agama yang menawan dan menarik perhatian, mereka merayu targetnya mengikuti gerakan yang sesekali membuat pening kepala orang yang melihatnya. Suara yang merdu bagai burung emprit, mereka mengajak sejumlah orang berpengaruh, baik pengusaha, cendekiawan, profesor, doktor, mahasiswa dan lainnya. Ketika sudah bersatu dalam dogma goyangan sang biduan, maka dirinya seolah amnesia bahwa ia mempunyai latar belakang sebagai pengusaha, professor, bahkan doktor yang seharusnya menunjukkan jalan yang benar.

Tidak hanya itu, bahkan mereka berani mengorbankan harga diri dan karirnya, untuk sebuah perjuangan yang dilakukan bagi para penegak khilafah tersebut. Di permukaan bisa kita lihat ketika Prof. Suteki dicopot dari jabatannya oleh rektor sebagai Ketua Prodi Magister Ilmu Hukum dan Ketua Senat Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (28/10/18). Hanya karena menjadi saksi ahli dalam sidang gugatan HTI di PTUN Jakarta dan Judicial Review di Mahkamah Konstitusi pada bulan oktober 2017. Rektor Undip menganggap Prof. Suteki telah melanggar kedisiplinan dalam Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010.

Jika sudah dalam lingkaran panggung percaturan politik Hizbut Tahrir, makai ia akan khilaf, bukan khilafah. Khilaf akan kebenaran. Otak geniusnya seolah telah tercengkeram erat oleh pendendang khilafah. Maka kita perlu waspada, jangan sampai tergoda jauh ke dalam pentas mereka, sebelum orang-orang terdekat kita menegur perilaku yang jauh dari akhlak seorang Muslim. Mengapa dikatakan demikian, sebab para penegak khilafah itu tidak memiliki akhlak yang baik. Para penegak khilafah tersebut sebetulnya tidak pernah menghormati dan menghargai para pejuang, pendiri bangsa, dan para syuhada, bahwa atas perjuangan merekalah kita bisa menikmati kedamaian saat ini.

Lebih dari itu, dibalik paham transnasional seperti Hizbut Tahrir, ada dana yang digelontorkan oleh negara-negara adidaya seperti Inggris dan AS. Saweran itulah yang membuat hingga hari ini, kita bisa menyaksikan aksi mereka pada momen politik, seperti pilkada dan pilpres. Menurut profesor ekonomi, Michel Chossudovsky yang ditulis pada artikel di laman Global Research, bahwa di permukaan, Hizbut Tahrir terlibat dalam aksi unjuk rasa di Suriah pada bulan maret 2011, hingga terus berkembang menjadi konflik sampai hari ini. Selain itu, Chossudovsky juga menulis kerjasama Hizbut Tahrir dengan intelejen Inggris M16 pada bulan mei 2011. Negara adikuasa akan mendanai jika ada sebuah pemikiran yang berbeda dari mayoritas.

Hizbut Tahrir juga terlibat pada penggulingan Muammar Khadafi, memprovokasi rakyat Libya, membuat sejumlah berita bohong seperti kerjasama Khadafi dengan Inggris dan Israel. Kenyataannya mereka sendiri yang didanai Inggris untuk menghancurkan Libya, yang pada saat itu menjadi negara terkaya dengan Gross Domestic Product (GDP) tertinggi di Afrika, subsidi yang besar untuk rakyat, pendidikan dan kesehatan gratis, menjadi satu-satunya negara yang tidak memiliki hutang, tidak tersentuh World Bank dan IMF, tingkat kejahatan paling rendah di Afrika, dan menjadi negara mandiri dengan mengelola sumber daya alamnya sendiri. Bahkan sejumlah ratusan pendemo Hizbut Tahrir di Indonesia, turut menyuarakan penggulingan pemimpin Libya tersebut pada hari senin, (28/03/11) di Bundaran Hotel Indonesia, Jl. MH Thamrin, Jakarta pusat.

Kata kuncinya adalah, bagaimana caranya fenomena tersebut tidak terjadi di Indonesia. Kalau terjadi, maka akan lebih parah dari apa yang terjadi di Timur Tengah dan Libya, karena di sini negara kepulauan, dan tanda-tanda perpecahan sudah terlihat nyata. Rogoh kocek untuk disawerkan kepada kelompok penegak khilafah juga sudah siap, walau tidak akan mudah, meskipun embrio-embrio sudah banyak tumbuh, dengan berlindung pada HAM, mereka bebas melakukan gerakan-gerakan dan aksi propaganda. Pekerjaannya sederhana, yang berbeda dengan pemahaman sistem mereka (khilafah) maka dihukumi sistem kafir. Hal ini akan menimbulkan konflik sosial yang berkaitan dengan keselamatan negara.

Jika sudah demikian, mestinya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dimodali negara untuk membenahi hal ini, karena mereka dengan pemikiran transnasionalnya dimodali oleh asing. Supaya para ulama mengurai kebekuan teologi hitam putih mereka, menjadi moderat dan seimbang antara agama, politik dan negara. Jadi tidak usah berkamuflase anti asing, sementara masih menerima saweran dari asing.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…