Bung Karno Pahlawan Islam

0
5
WhatsApp
Twitter
Bung Karno Berdoa - Foto Detik.com -

Dari masa ke masa, selalu saja ada tuduhan miring yang mengatakan bahwa Sukarno merupakan tokoh Sekuler. Bahkan tak jarang, ia dituduh sebagai seorang komunis. Namun ternyata, tuduhan dan pendapat tersebut ahistoris dan tidak sesuai dengan fakta. Berdasarkan sejarah, Bung Karno senantiasa mengikutsertakan Islam sebagai bagian dari pemikirannya. Konstruksi Pemikiran Islam tersebut kemudian ia tuangkan ke dalam sebuah tulisan. Dalam buku berjudul Di Bawah Bendera Revolusi jilid 1 tahun 1926, Bung Karno menulis tentang Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme.

Konstruksi pemikiran Bung Karno tentang Islam sedikit banyaknya dipengaruhi oleh para tokoh Islam. Kiai Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, Tjipto Mangunkusumo, KH. Hasyim Asy’ari dan Kiai Ahmad Dahlan adalah guru yang menyiramkan dahaga pemikiran tentang Islamisme Bung Karno. Ketertarikan pada dunia Islam membuatnya terlibat dalam berbagai kajian,diskusi, dan telaahnya terhadap karya-karya HOS Tjokroaminoto. Tak hanya itu, Bung Karno mulai memahami ajaran Islam saat masih muda secara intensif. Cakrawala pemikirannya tidak hanya sebatas pada suatu paradigma Keislaman saja. Ia juga mempelajari ajaran-ajaran teologi lainnya melalui pemikiran masyarakat Nusantara.

Kesadaran belajar tentang agama membuat rasa penasarannya sedikit terobati. Saat dewasa, ia menemukan pematangan keyakinan ketika diasingkan di penjara Banceuy, Bandung tahun 1930. Kesadaran ini, kemudian membuatnya belajar agama Islam secara lebih mendalam lagi. Bahkan, Bung Karno sendiri telah mendapatkan sumbangan buku agama dari Ahmad Hassan, pemimpin Persatuan Islam (Persis). Hingga akhirnya ia dipindahkan ke daerah terpencil di Ende, Flores tahun 1934. Di pulau kecil itu, hanya Inggit Garnasih sang kekasih yang menemani sepi dan sunyinya hari-hari Bung Karno. Berbekal buku-buku dan suratnya, ia rutin membaca berbagai buku termasuk buku agama. Tak hanya itu, di bawah pohon halaman rumah, ia merenungkan ilham yang diturunkan Tuhan kepadanya. Pada titik penting ini, terciptalah Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara.

Dalam perkembangan selanjutnya, Bung Karno tumbuh sebagai pemimpin politik dengan penghayatan religius yang mendalam. Hal ini, tercermin dari uraiannya tentang Pancasila yang sesuai dengan ajaran Rasullulah SAW. Ia mengatakan makna filosofis sila Ketuhanan sudah jelas dan mengakar. Dalam pidatonya, pada 1 Juni 1945 Bung Karno menginginkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berketuhanan, beragama dan nasionalis. Sikap Bung Karno yang membela Islam tercatat dalam sejarah sidang BPUPK. Pada sidang BPUPK tersebut Bung karno kemudian melahirkan naskah Piagam Djakarta yang disepakati tanggal 22 Juni 1945, hingga akhirnya Bung Karno juga menyepakati bersama para pendiri bangsa lainnya Pancasia yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Di sisi lain, dimensi ketuhanan Bung Karno tak pernah hilang hingga akhir hayatnya. Ia mengatakan, “Jika saya meninggal, saya ingin dikubur dengan membawa panji Muhammadiyah di atas kain kafan saya”. Ungkapan tersebut ia katakan saat pidato penutupan Muktamar Muhammadiyah tahun 1962, di Jakarta.

Dalam konteks inilah, kita ketahui bahwa Bung Karno sangat menjiwai Islam. Bukan hanya itu saja, keislaman Bung Karno juga dibuktikan dengan pengesahan gelar oleh warga nahdliyyin sebagai waliyul amri ad-dharuri bi as-syaukah (pemimpin pemerintahan yang sah). Gelar tersebut diberikan karena Bung Karno merupakan tokoh pemimpin dengan berbagai kebijakan yang mengikat secara sah bagi umat Islam di seluruh Indonesia.

Di dunia Internasional, langkah Bung Karno terhadap kepentingan Islam sangatlah nyata. Hal itu membuatnya mendapat banyak penghargaan dan penghomatan di dunia Islam. Penghargaan Bung Karno pada Islam juga terbukti saat ia menemukan makam Imam Al-Bukhari pada 1961 di Samarkand, Uzbekistan. Di sisi lain, Bung Karno juga merupakan tokoh di balik hidupnya kembali aktivitas Masjid Jami’ Muslimin (Masjid Biru) di Saint Petersburg, Uni Soviet. Selain itu, Bung Karno juga merupakan salah satu putera bangsa yang menerima gelar akademis Doktor Honoris Causa dari universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dalam Ilmu Filsafat.

Walhasil, Berdasarkan fakta sejarah tersebut, tak heran jika Bung karno tercatat sebagai Pahlawan Islam. Perjuangannya banyak menginspirasi perlawanan terhadap penjajahan di negara Asia Afrika. Keislaman Bung Karno tidak perlu diragukan lagi. Ia bukan tokoh sekuler apalagi komunis. Tapi, ia merupakan pahlawan nasional dan pejuang Islam.

Hal ini yang perlu kita ketahui sebagai umat Islam, bahwa pemikiran Bung Karno terhadap Islam harus terus kita jaga dan amalkan. Mari kita kenang Bung Karno sebagai pahlawan Islam, karena ia bukan hanya melakukan ibadah dzikir dan fikir, melainkan amal shaleh bagi bangsanya, bahkan dunia Islam.