Oleh: Ahmad Shohifin
Beberapa pekan yang lalu, jagat Internasional dihebohkan dengan keputusan pemerintah Turki yang mengubah status Museum Hagia Sopia menjadi Masjid. Keputusan itu menuai pro dan kontra, ada yang mendukung dan tak sedikit yang menentang. Dunia Barat menjadi pihak yang ikut mengecam, menganggap keputusan itu telah menyakiti perasaan umat Kristen dunia, khususnya Kristen Ortodoks.
Begitu pula UNESCO dan Amerika Serikut ikut memprotes keputusan tersebut. Namun nyatanya Presiden Racep Tayyip Erdogan tidak bergeming dan tetap kukuh pada pendiriannya. Mereka beralasan, apa yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur hukum dan keinginan warga Turki untuk mengenang sejarah kejayaan masa lalunya, yaitu kemenangan Sultan Muhammad Al-Fatih. Meski dari sudut pandang saya, argumen ini sangat pekat dengan aroma politik.
Menurut beberapa peneliti di dalam negri tersebut, perubahan status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid adalah upaya dari Erdogan untuk mengatrol popularitas partainya yaitu AKP dan dirinya yang beberapa tahun terakhir mulai anjlok. Di sisi lain, perubahan status Hagia Sopia yang dari museum menjadi Masjid juga membuat euforia dan harapan baru bagi kelmpok pendukung khilafah.
Di Indonesia sendiri, banyak kelompok pro-khilafah yang mendukung pengalihfungsian masjid Hagia Sophia menjadi masjid. Ditambah,sebuah majalah pro-pemerintah Turki sempat menggemparkan dengan menyerukan kembangkitan kembali kekhalifahan Islam, menyusul pembukaan kembali Hagia Sopia di Istanbul sebagai masjid.
Seruan itu dibantah oleh juru bicara Partai Keadilan Pembangunan (AKP) pada Senin (27/7/2024), “Republik Turki adalah negara yang demokratis dan skuler, berdasarkan aturan hukum,” kata Juru Bicara Omer Celik dalam sebuah cuitan di Twitter. “Republik kita adalah payung bagi kita semua, berdasarkan kualitas-kualitas ini. Adalah salah satu untuk memicu polarisasi tentang sistem politik Turki, debat dan polarisasi tidak sehat yang muncul di media sosial kemarin, tentang sistem politik kita tidak ada dalam agenda Turki,”tulis Celik.
Cuitan resmi dari AKP itu muncul sebagai respon dan jawaban atas seruan Majalah Gercek Hayat agar pemerintah meluncurkan kembali yang dihapuskan, tak lama setelah jatuhnya Kekaisaran Ottoman. Gercek Hayat adalah majalah minguan surat kabar Yeni Safak yang mempunyai hubungan kuat dengan AKP dengan pemerintah. “Sekarang Hagia Sopia dan Turki bebas, bersiaplah untuk kekhalifahan,” demikian tercantum dalam sampul terbitan Gercek Hayat 27 Juli. “Jika tidak sekarang, lalu kapan? Jika bukan kamu, lalu siapa?”, tampaknya pertanyaan dalam sampul itu merujuk pada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.
Dalam kunjungannya ke Ibukota Kroasia, Presiden Turki itu menyatakan menolak bila Turki menjadi Negara Islam. Erdogan mengatakan, hak-hak dan kebebasan semua agama dilindungi. “Jika saya sebagai Muslim bisa hidup seperti yang saya inginkan, maka seorang Kristen dapat melakukannya juga. Hal yang sama berlaku untuk orang-orang Yahudi dan juga untuk ateis,” ujar Erdogan, seperti yang dilansir Daily Sabah.
Walhasil, pernyataan Erdogan dan cuitan resmi dari AKP itu menjadi menjadi jawaban atas kekhawatiran kita, sekaligus meredam gejolak kebangkitan khilafah, pasca perubahan status musium Hagia Sopia mejadi masjid. Para pendukung Khilafah jangan ge-er dulu, karena Erdogan pun menolak Khilafah.