Ustadz Kok Rasis?

0
62
WhatsApp
Twitter
Tengku Zulkarnain. Image: Telegraf

Belum lama ini, video ceramah ustadz Tengku Zulkarnain viral di media sosial. Pasalnya, ia dianggap rasis karena merendahkan suku Jawa. Ia membanding-bandingkan budaya Sumatera dan Jawa, di mana suku Jawa disebut-sebut kalau berpamitan berjalan sambil mundur-mundur. Ia mengatakan, bahwa suku Jawa meletakkan keris di belakang karena tidak seberani orang Sumatera, karena orang Sumatera meletakkan kerisnya di depan.

Ceramah tersebut disambut tawa oleh para jemaah. Humor dalam dakwah memang penting, namun tetap perlu diperhatikan kembali setiap kata yang diucapkan, apakah mengandung unsur pelecehan, diskriminasi, atau hal yang tidak berkenan lainnya.

Komentar beragam bermunculan dari penikmat media online twitter. Merasa tersinggung oleh ceramah ustadz Tengku Zulkarnain, pada cuitan akun twitter @HusinShihab (24/07) melaporkan, mengungkapkan kegusarannya dan disusul komentar lainnya terkait anggapan ucapan rasisnya ustadz pendakwah.

Memang tak dapat dipungkiri kadar penerimaan terhadap dakwah seorang berbeda-beda, ada yang memaklumi bahwa ustadz Tengku Zulkarnain itu hanya menjelaskan dan menirukan karakter perbedaan pada tiap-tiap suku, menurut akun twitter @alfianimaktaf (24/07).

Kendatipun demikian, lebih dominan yang berpendapat bahwa dakwah ustadz Tengku Zulkarnain mengandung rasisme, sehingga banyak cuitan yang meluapkan kemarahan pada akun twitter yang membagikan momen ceramah tersebut.

Berdasarkan isu-isu dakwah yang menuju rasisme di atas, menjadi perhatian bagi para ustadz yang menyiarkan dakwahnya untuk lebih berhati-hati kiranya dalam mengeluarkan redaksi pada tiap katanya.

Dalam berdakwah, kita bisa mengambil contoh dari dakwah Walisongo, pembawa ajaran Islam ke Indonesia yang mampu disampaikan dengan cara yang penuh kelemah-lembutan dan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial, sehingga memberikan kedamaian dan pencerahan kepada para jemaahnya.

Saya membaca pada sebuah riwayat yang sahih, kisah sahabat Nabi yang masyhur, bahwa Abu Dzar pernah mengatakan “hei kamu, anaknya orang berkulit hitam” , kabar ini sampai terdengar oleh Rasulullah SAW dan setelah memastikan kebenaran ucapan tersebut, beliau menegur Abu Dzar, bahwa perbuatan itu perilaku orang-orang jahiliah yang tercela. Coba kita ambil yang lebih dekat, ingatkah cerita Klub Sriwijaya FC kepada pemain Persipura? Pendukung Klub Sriwijaya FC menghina pemain Persipura dengan terdengar seperti monyet yang ditunjukkan pada pemain Persipura yang berasal dari Papua.

Begitulah rasis berpotensi, ia mampu melahirkan kekerasan, baik secara fisik atau psikis. Merasa unggul dan sempurna, tak ada empati, korban rasis merasa tak percaya diri, takut, lalu hanya bungkam. Sifat keangkuhan yang membunuh karakter, memanusiakan secara tidak manusiawi.

Tentu saja seorang ustadz dikenal sebagai pendidik, kiranya perlu mengetahui literatur komunikasi dalam Islam, sebagaimana term dalam Al-Qur’an yaitu qaulan sadidan (perkataan yang benar), qaulan balighan (perkataan yang efektif, tepat sasaran), qaulan ma’rufan (perkataan yang baik, santun, ungkapan yang pantas), qaulan kariman (perkataan yang mulia, bersamaan rasa hormat atau mengagungkan), qaulan layinan (perkataan yang lemah lembut, penuh keramahan),dan qaulan maysuran (perkataan yang mudah dipahami, mudah dicerna pendengar).

Seorang ustadz harus sadar, bahwa penyampaian dakwah yang mengandung unsur rasis dapat merugikan para pendengar dan menghancurkan substansi isi dakwah. Dalam dunia dakwah, kata-kata yang bernuansa rasis seharusnya dapat dihindari karena tolok ukur dalam memberikan dakwah adalah perilaku Rasulullah SAW. Perbedaan adalah rahmat. Karenanya, jadi ustadz tidak boleh rasis.

Simak Juga Ulasan Ustadz Kok Rasis! di Video Kadrun TV

KadrunTV – Ustadz Kok Rasis!