Beberapa tahun belakangan, tren “hijrah”, menjadi salah satu pionir yang meramaikan jagat medsos. Baik via facebook, twitter, Instagram, maupun youtube. Dewasa ini media tersebut menjadi kendaraan utama mereka dalam mengampanyekan hijrah. Di antara yang ramai di media sosial adalah fenomena hijrah kalangan artis. Di sisi lain, ghirah hijrah mulai merambah kaum muda, pelajar, mahasiswa dan kalangan professional. Seperti yang kita ketahui, beberapa artis satu per satu masuk dalam kelompok hijrah di perkotaan. Lantas, hal apa yang menarik perhatian kita, terhadap fenomena ini, sehingga begitu maraknya para artis ikut dalam kelompok hijrah.
Hal demikian cukup menarik perhatian kalangan cendekiawan Muslim milenial. Khususnya alumni-alumni pesantren. Baik secara individual atau komunal untuk mengkaji dan mendiskusikannya. Bukan tanpa sebab, selain karena masifnya pergerakan Islam Transnasional di Indonesia dari berbagai sektor juga isu-isu yang selalu dibangun dan dikemas dengan cara kekinian, sehingga dapat menarik perhatian khalayak luas.
Menyelisik fenomena hijrah. Kata hijrah sendiri, memiliki arti yang variatif, namun tidak dapat kita pungkiri bahwa, hijrah dalam Islam, mengacu pada sejarah Islam pada masa Nabi Muhammad SAW. Hijrah sendiri berasal dari bahasa Arab, yang secara harfiah berarti “meninggalkan”, “memutuskan hubungan dengan seseorang” (seperti ikatan kekerabatan atau hubungan pribadi lainnya), atau “bermigrasi”.
Dalam konteks yang lebih luas, al-Hafizh Abdurrauf al-Munawi, pakar hadis asal Mesir berpendapat, “hijrah pada hakikatnya adalah tarkul manhiyyat, meninggalkan berbagai larangan agama. Karenanya, hijrah sejatinya tidak terbatas pada perpindahan yang bersifat lahiriah, namun juga mencakup perpindahan atau perubahan yang bersifat batiniah”.
Di Indonesia sendiri istilah hijrah sebenarnya bukanlah hal yang baru. Jendral Sudirman pada tahun 1948 pernah menggunakan istilah hijrah ketika memobilisasi 30.000-an masa. Yang terdiri dari rakyat dan tentara Indonesia untuk ‘berpindah lokasi’ dari Jawa Barat ke Yogyakarta.
Mulanya, tren hijrah, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh pro-khilafah (eks HTI) ini, tidak terlalu menarik perhatian khalayak luas. Namun, beberapa tahun belakangan, menjadi perbincangan hangat, disebabkan, karena masifnya kalangan masyarakat urban yang kerap menampakan perubahan dalam pergaulan dan mengikuti pengajian ustadz-ustadz khilafah secara vulgar. Dan juga, banyaknya kalangan artis mengikuti tren ini.
Kita sebut saja, Ari Utung, misalnya. Ia mengikuti artis-artis yang sudah terlebih dulu bergabung dalam kelompok hijrah. Seperti, Tengku Wisnu, Irwansyah, keluarga Sungkar, Hari Mukti dan beberapa artis lainnya. Bahkan, diketahui mereka membuat kelompok sendiri dengan nama “Kajian Musyawarah”.
Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, KH Said Aqiel Siradj, menanggapi terkait fenomena hijrah, “sebenarnya istilah hijrah sebagai bagian dari syiar Islam dan sesuatu yang baik. Namun, akan menjadi tidak baik jika penekanan istilah hijrah mengandung tendensius.”
Seperti yang kita ketahui bersama, fenomena hijrah dewasa ini. Bukan hanya terfokus memperbaiki diri, dan menggali lebih dalam pengetahuan tentang Islam. Tapi, sudah merambak ke ranah politik, sosial, dan ekonomi (bisnis). Mereka, bahkan terlibat masif ikut serta dalam mengampanyekan politik identitas dalam beberapa kasus pemilihan umum (pemilu). Keikutsertaan meraka dalam aksi 212 yang berjilid-jilid dengan agenda mengkritik pemerintahan yang sah, dan mengkampanyekan “khilafah sebagai solusinya”, misalnya.
Hal di atas, dapat kita perjelas. Dari kedekatan komunitas Kajian Musyawarah dalam beberapa agenda pengajiannya dengan beberapa tokoh pro-khilafah, seperti: Ustadz Felix Siauw, Ustadz Bachtiar Natsir, UAS, Habib Rizieq, Ustadz Haikal Hasan, dan lain-lain. Yang belakangan menjadi oposisi dan memberi stigma-stigma jelek kepada pemerintah.
Mirisnya, tidak sedikit dari mereka, menampakan sikap layaknya tokoh-tokoh khilafah pada umumnya, seakan-akan lebih beragama dan merasa benar, dari orang-orang Islam selain kelompoknya. Seperti halnya, artis-artis dalam programnya “Berita Islam Masa Kini” Yang menyebutkan bahwa, “membacakan Al-Quran surat Al-Fatihah untuk orang-orang yang sudah meninggal adalah perbuatan bid’ah karena tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW.”
Hal demikian, yang mestinya menjadi kesadaran bagi mereka. Dalam berdakwah atau mengajak umat agar betul-betul menjadi Muslim-Muslimah yang baik. Ada etika, metode, dan strategi yang perlu ditaati. Bukan malah berargumen sekenanya.
Melihat fakta di atas. Sudah cukup bukti untuk kita. Jalan hijrah mereka tidak sesuai dengan hijrah yang semestinya dalam Islam. Karena hakikatnya, dalam berhijrah orang tidak berarti dapat merasa lebih baik daripada orang lain, menyalah-nyalahkan orang lain, dan meremehkannya. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, Hakikat hijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah (HR. Bukhari dan Muslim)
Di beberapa kesempatan, tren “hijrah” ini membuat sebagian umat Islam merasa resah. Lantaran nalar berpikir mereka yang cenderung menggunakan terminologi oposisi biner, yakni meletakkan segala sesuatu secara saling berhadap-hadapan, seperti hitam-putih, baik-buruk, benar-dan salah. Serta kategori-kategori lain yang umumnya mudah menyimpulkan, menghakimi salah bila tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan.
Menurut pandangan saya, hijrah merupakan fase penting, seseorang untuk memperbaiki diri, perpindahan atau peralihan dari satu ke lain kondisi. Hijrah yang secara harfiah berarti “meninggalkan”, merupakan ruh yang menjiwai gerakan seorang Muslim dalam kehidupannya.
Dalam Islam sendiri saya tidak menemukan literatur yang mengharamkan istilah hijrah dalam konsep hidup seseorang. Namun, baiknya pemaknaan hijrah, bagi kalangan artis dan praktisi “hijrah”. Tidak hanya selesai pada permasalahan khilafah, haram-halal, baik-buruk, dan salah-benar saja. Pemaknaan hijrah harus terbuka dan luas serta bisa diimplementasikan secara baik dalam kehidupan nyata, sehingga tidak menimbulkan sesuatu yang bersifat sentimentil antar kelompok dan pola pikir sempit. Islam tak hanya berakhir pada pembahasan surga dan neraka. Islam juga mengatur soal kehidupan yang damai dan toleran pada sesama.
Walhasil, hijrah adalah cara umat Islam dalam memperbaiki diri, dari kejahatan masa lalu menuju kebaikan masa depan. Dari sebuah kegelapan menuju kecerahan, serta banyak berkorban untuk sesama, masyarakat dan negaranya. “Hijrah boleh, berlebihan dalam beragama jangan”. Para artis sejatinya hati-hati dalam belajar agama agar tidak terjebak pada jebakan khilafah HTI dan yang sejenisnya, sehingga berpotensi menggerus nilai-nilai Pancasila yang sudah mempersatukan kita sebagai negara-bangsa dari dulu hingga sekarang.